Pengakuan Seorang Pemain Poker Online Profesional

· 4 min read
Pengakuan Seorang Pemain Poker Online Profesional

Saya menyukai kebebasan dan halangan intelektual yang dikasih poker online ke saya, namun perihal itu butuh banyak pengorbanan psikologis

Anda harus terima banyak salah tafsir waktu Anda memberitahukan sebagian orang kalau Anda main kartu untuk mencari nafkah. "Kayak apakah muka pokermu?" perihal pertama-kali yang cenderung menjadi pertanyaan orang ke saya. Saya merasa seolah-olah mengesalkan mereka saat saya mengatakan kalau saya tidak memiliki. Main online, yang disebutkan dasar pendapatan poker saya, tidak peduli apa yang telah dijalankan muka saya (normalnya cuman meringis di monitor). Saat saya bermain langsung, saya cenderung fokus di banyak hal lain buat berita: ukuran taruhan; penanganan chip; sejarah tangan; apa yang dipakai lawan, minum, bercakap. Muka jarang masuk ke dalamnya.

Tanggapan ciri-khas yang lainnya yakni, "Bagaimana Anda bisa mencari nafkah dengan taruhan? Itu seluruh hanya keberuntungan, kan?" Ah tak juga.  Memanglah, ada elemen hoki era pendek atau sebaliknya, tetapi setelah lebih pada sejumlah ratus ribu tangan, keterampilan kejiwaan, matematika dan emosional yang akan berkuasa. Makalah Steven D Levitt "The Role of Kekuatan Versus Luck in Poker" bersama dengan sumber lain, memberi bantuan poker menjadi permainan berbasiskankan keterampilan. Dan sementara saya mengakui kalau saya betul-betul kecanduan mesin slot waktu remaja, poker online sungguh-sungguh tidak merasa seperti permainan judi. Grafik keuntungan saya yang masih tetap naik sejauh empat akhir tahun menunjukkan kalau di akhirnya upaya keras serta bakat dapat di pandang. Memang, pendapatan tahunan saya tidak demikian sensasional dan akan tetapi ada pada atas penghasilan sekurang-kurangnya regional (UMR).

Diawali Dari Menulis Kolom Perihal IDNPOKER

Saya tak berniat mengenal permainan poker serta cukup terlambat di usia 36, ??setelah mulanya saya bekerja selaku jurnalis terlepas. Saya diperintah dengan seorang editor buat menulis kolom mingguan terkait IDNPOKER. Saya sependapat dan langsung berkeinginan untuk pelajari poker.

Saya sajikan waktu untuk belajar berkaitan permainan poker serta berganti dari main satu meja jadi dua meja, lalu, kelanjutannnya, delapan meja atau tujuh. Kolom itu diagendakan jalan beberapa waktu. Saat kelanjutannnya menyusut serta saya memiliki kemungkinan untuk melihat-lihat, itu telah jalan sejauh 88 minggu. Karier menulis saya amburadul serta pemasukan saya waktu ini sekedar terkait pada kesuksesan saya main poker online di IDNPOKER. Meskipun kegiatan poker saya cukup membahagiakan sekaligus mendebarkan akan tetapi hingga sampai saat ini saya masih melakukan.

Waktu selesai dengan Anda habiskan sebagian besar waktu Anda sendiri pada suatu tempat kecil lihat pc. Saya hampir tak dapat ingat apa yang terjadi minggu tempo hari namun ingat secara detail tangan dimainkan sekian waktu lalu. Saya berusia 40 tahun waktu ini serta kemauan hidup yang terdiri dalam berbagai hal "normal" - hipotek, mulai sebuah keluarga, hobi - semua musnah. Poker telah taruh saya terpinggirkan dari penduduk.

Terjerumus Kasus Kejiwaan



Ini sebenarnya kurang sehat. Tahun tempo hari saya masuk jauh ke jurang psikologis. Saya memainkan permainan uang langsung dengan uang hutang dan mendapat hasil yang jelek. Kehilangan penghasilan 1 minggu dalam dua menit sulit diterima akal sehat saya.

Untuk bayar rugi itu, saya menggerus delapan meja poker online secara bersamaan hingga sampai 15 jam satu hari. Waktu saya tak main, saya minum alkohol hingga sampai mabuk buat mengatasinya. Persoalan keuangan menjadikan saya kesukaran tidur yang selanjutnya menyebabkan mengambil ketentuan yang tidak baik di meja poker online. Saya ada pada lingkaran mimpi jelek. Diakhir November, kesehatan kejiwaan saya seperti tersangkut tali. Saya memikul penderitaan insomnia kronis, tinitus, pertimbangan buat bunuh diri; berat badan saya turun serta seolah-olah itu kuranglah cukup - dan jujur saja saya merasa seperti alami sindrom kepala meledak.

idn poker Saya memohon andil seseorang. Sejumlah filsuf itu memiliki pendapat bagus untuk pemain poker modern untuk dinaikkan ke perangkat kejiwaannya. Mereka konsentrasi di penataan diri, menanggulangi masalah, mengerti dorongan hati kita, kehidupan selepas sejumlahya, dan kegagalan. Apa pilihan saya? Menghancurkan komputer atau latih setting diri dan konsentrasi untuk main dengan baik? Ini tak menyenangkan, namun tak ada pilihan lain. Untung saya bisa ditenangkan oleh kalimat Marcus Aurelius: "Masalah itu sungguh-sungguh bukan kegetiran; buat menanggungnya dan menang adalah hoki besar."



Pertanyaan yang rasional di sini peluang adalah: mengapa Anda tak pergi serta melakukan satu perihal yang tidak demikian terdapat resiko secara keuangan dan membinasakan psikologis? Kasusnya, saya masih menyaksikan poker online menjadi satu soal yang memikat. Aksioma habiskan waktu lima menit untuk belajar serta seumur hidup buat dikuasai. Saya tak yakin apa saya bisa melamar pekerjaan dengan kekurangan yang menganga di CV saya.

Kemajuan Profesi Poker Saya

Saya ke Kamboja pada bulan Februari lalu buat bermain di dalam permainan uang di situ. Saya hampir menangis lantaran kebahagiaan saksikan hoki menyapa saya pada satu malam. Dompet saya sungguh-sungguh penuh serta profesi poker saya merasa bagus: kerjakan satu hal yang terpelajar menentang saya, itu punyai makna saya tidak terikat, bila saya tidak mesti menjawab siapa, itu tak merasa seperti tugas.

Tetapi saya tak dapat menghilangkan rasa bersalah apabila saya belum melakukan satu perihal yang lebih positif di kehidupan saya. Mereka belum secara eksplisit mengatakannya, tetapi saya merasa keluarga serta kawan-kawan saya terasa kalau saya dapat kerjakan satu hal yang lebih baik dengan waktu saya ketimbang habiskan uang seseorang. Saya tidak keberatan mengambil uang dari sama pemain profesional - saya kerapkali menikmatinya - namun saya sering merasa kotor mengambil pot dari pemain wisataonal yang bermain poker online di IDNPOKER cuman untuk berbahagia.

Saya bercakap dalam diri kita apabila itu adalah intermezo buat mereka; apabila malam bermain poker online lebih murah dan lebih sehat dibandingkan akhir pekan di pub. Setelah itu rasa bersalah peluang mulai lesap. Ditambahi kembali, saya lagi lakukan sebuah buku, mencari hubungan antara ketabahan, depresi, dan poker online, yang saya mengharapkan selekasnya bisa membantu pihak lain.

Ini merupakan bagaimana saya melalui beberapa waktu dengan menghibur diri. Penipuan adalah segi terbesar dari keterampilan pemain poker online meskipun sebagian besar waktu saya mengenali apabila saya menipu diri kita sendiri.